HUKUM PENGGABUNGAN PINJAMAN DANA DAN JUAL BELI DALAM
SATU TRANSAKSI
حُكْمُ عَقْدِ سَلَفٍ وَبَيْعٍ
Di tulis oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISALAM
*****
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
HADITS:
Dari Abdullah bin Amr RA, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ،
وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ، وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ تَضْمَنْ، وَلَا بَيْعُ مَا
لَيْسَ عِنْدَكَ»
"Tidak halal meminjamkan dan juga menjual.
Tidak halal pula dua syarat dalam satu akad jual beli . Tidak
halal pula laba terhadap barang yang tidak dijamin (baik dan
buruknya). Serta tidak halal pula menjual apa yang tidak kamu miliki."
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 6671, Al-Tirmidzi (1234),
Abu Dawud (3504), Al-Nasa’i (4611), dan disahihkan oleh Al-Tirmidzi dan
Al-Albani.
Abu Isa al-Tirmidzy berkata: “Hadits ini hasan shahih.
Dinilai hasan shohih pula oleh al-Albani dalam Shahih Abu
Daud no. 3504.
====
SYARAH HADITS
Syarah kalimat hadits: «لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ» artinya: "Tidak halal menjual dan
meminjamkan “
Abu Isa al-Tirmidzy berkata: Ishaq bin Manshur berkata ;
Aku bertanya kepada Ahmad; Apa yang dimaksud beliau melarang salaf dan jual
beli?
Beliau menjawab: Seseorang meminjamkan uang lalu menjual
kepada si peminjam barang karena pinjaman dengan harga lebih (jika tidak ada
penjaman maka tidak ada penjualan).
Dan mungkin juga (maknanya): Seorang pembeli meminjamkan
uang pada si penjual untuk membeli barang darinya, maka si pembeli berkata ;
Jika barang tersebut belum tersedia pada mu maka barang itu aku jual padamu (sehingga
si peminjam membayar lebih mahal atas pinjaman uang untuk pembelian barang
tsb). (Baca: Sunan Al-Tirmidzi syarah hadits no. (1234)).
Dalam kitab “الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ أَصَالَةً
وَمُعَاصَرَةً” hal. 367 karya Dibyan ad-Dibyaan di
katakan:
اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ فِي الْجُمْلَةِ عَلَى
أَنَّهُ لَا يَجُوزُ اشْتِرَاطُ عَقْدِ الْبَيْعِ فِي عَقْدِ الْقَرْضِ، كَأَنْ يَقُولَ
رَجُلٌ لِآخَرَ: أُقْرِضُكَ بِشَرْطِ أَنْ تَبِيعَنِي بَيْتَكَ بِكَذَا وَكَذَا، فَهَذَا
الشَّرْطُ جَرَى صَرِيحًا فِي الْعَقْدِ. وَقَدْ يَكُونُ الشَّرْطُ حُكْمًا دُونَ أَنْ
يَنْصَّا عَلَيْهِ فِي الْعَقْدِ، كَمَا لَوْ كَانَ الشَّرْطُ جَرَى بِهِ عُرْفٌ، فَلَا
فَرْقَ، فَالْمَعْرُوفُ عُرْفًا كَالْمَشْرُوطِ شَرْطًا.
Para ulama secara umum sepakat bahwa tidak boleh
menetapkan akad jual beli dalam akad pinjaman, seperti jika seseorang berkata
kepada orang lain:
“Saya meminjamkan Anda dengan syarat Anda menjual rumah
Anda dengan harga ini dan itu”. Syarat di sini secara tegas dinyatakan dalam
transaksi.
Dan terkadang Syarat itu hanya sebatas hukum saling
memaklumi tanpa disebutkan dalam transaski, seperti disebabkan bahwa syarat
yang seperti itu sudah menjadi tradisi dan kebiasaan, maka tidak ada bedanya,
baik di sebutkan maupun tidak.
Namun Ada sebuah kaidah yang menyatakan:
الْمَعْرُوفُ عُرْفًا كَالْمَشْرُوطِ شَرْطًا
Sesuatu yang sudah dimaklumi secara tradisi dan kebiasaan,
maka hukumnya sama dengan mensyaratkan “. (Kutipan selesai).
Penyebab larangannya (عِلَّةُ الْمَنْعِ) adalah:
إِنَّهُ ذَرِيعَةٌ لِلرِّبَا، فَيَبِيعُ الرَّجُلُ
مَتَاعَهُ بِأَقَلَّ مِنْ قِيمَتِهِ بِشَرْطِ أَنْ يُقْرِضَهُ الْمُشْتَرِي، أَوْ يَبِيعُهُ
بِأَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ بِشَرْطِ أَنْ يُقْرِضَهُ هُوَ، فَيَكُونُ ذَلِكَ حِيلَةً
عَلَى قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا.
Itu karena dalih untuk riba (pencegahan dari Riba). Agar
tidak terjadi adanya seseorang menjual barangnya kurang dari harga yang
sebenarnya, asalkan si pembeli mau meminjamkannya uang pada si penjual. Atau
menjualnya lebih dari harganya, asalkan si penjual meminjamkan uang pada si
pembeli. Maka ini adalah tipu muslihat pinjaman yang membawa manfaat keuntungan
“قَرْضٌ جَرَّ نَفْعًا”.
Al-Khoththoobi
berkata dalam Ma'aalim as-Sunan (3/141):
«وَذَلِكَ مِثْلُ أَنْ يَقُولَ لَهُ:
أَبِيعُكَ هَذَا الْعَبْدَ بِخَمْسِينَ دِينَارًا، عَلَى أَنْ تُسْلِفَنِي أَلْفَ دِرْهَمٍ،
فِي مَتَاعٍ أَبِيعُهُ مِنْكَ إِلَى أَجَلٍ، أَوْ يَقُولَ: أَبِيعُكَهُ بِكَذَا، عَلَى
أَنْ تُقْرِضَنِي أَلْفَ دِرْهَمٍ، وَيَكُونُ مَعْنَى السَّلَفِ: الْقَرْضَ، وَذَلِكَ
فَاسِدٌ؛ لِأَنَّهُ إِنَّمَا يُقْرِضُهُ عَلَى أَنْ يُحَابِيَهُ فِي الثَّمَنِ، فَيَدْخُلُ
الثَّمَنُ فِي حَدِّ الْجَهَالَةِ، وَلِأَنَّ كُلَّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ
رِبًا».
“Ini seperti ketika dia berkata kepada seseorang: Saya
akan menjual hamba ini kepada Anda seharga lima puluh dinar, dengan syarat Anda
meminjamkan saya seribu dirham, dalam bentuk barang yang akan saya beli dari
Anda dibayar dalam jangka waktu tertentu.
Atau dia berkata: Saya akan menjualnya dengan harga ini, dengan syarat Anda
meminjamkan saya seribu dirham.
Dan arti (السلف) di sini adalah: (القرض / pinjaman), dan itu adalah transaksi yang
faasid / tidak sah, karena dia itu hanya mau meminjamkan nya secara pilih
kasih, yaitu dengan mensyaratkan agar dia meninggikan harga pembelian darinya,
maka harga tsb termasuk dalam batas ketidak jelasan. Dan karena setiap pinjaman
yang mendatangkan manfaat, maka ia adalah riba.” (Akhir kutipan dari Ma'alim
al-Sunan (3/141)).
Hukum Syariah melarang itu ; karena untuk mencegah
terjadinya riba (سَدًّا لِذَرِيعَةِ الرِّبَا). Karena jika pemberi pinjaman adalah
penjual, maka ia dapat menaikkan harga, sebagai imbalan pinjamannya. Jika dia
adalah pembeli, maka dia membeli barang tsb dengan harga murah, sebagai imbalan
atas pinjaman untuknya.
Dan jika benar-benar terjadi adanya pilih kasih harga (الْمُحَابَاةُ) yang disebabkan hutang piutang, maka itu
adalah riba. Dan jika tidak terjadi adanya (الْمُحَابَاةُ), maka itu tetap diharamkan melakukan
transaksi tsb ; karena untuk mencegah terjadinya riba (سَدًّا لِذَرِيعَةِ الرِّبَا).
Ibnu
Quddaamah berkata:
«وَلَوْ بَاعَهُ بِشَرْطِ أَنْ يُسْلِفَهُ
أَوْ يُقْرِضَهُ، أَوْ شَرَطَ الْمُشْتَرِي ذَلِكَ عَلَيْهِ، فَهُوَ مُحَرَّمٌ، وَالْبَيْعُ
بَاطِلٌ. وَهَذَا مَذْهَبُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ، وَلَا أَعْلَمُ فِيهِ خِلَافًا،
إِلَّا أَنَّ مَالِكًا قَالَ: إِنْ تَرَكَ مُشْتَرِطُ السَّلَفِ السَّلَفَ، صَحَّ الْبَيْعُ».
“Jika si penjual menjualnya pada seorang pembeli dengan
syarat si pembeli meminjamkan padanya uang atau menghutanginya. Atau jika si
pembeli mensyaratkannya pada si penjual, maka itu diharamkan, dan jual belinya
batil / tidak sah. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Syafi'i, dan saya
tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat, kecuali Imam Malik berkata: Jika
orang yang mensyaratkan pinjaman itu mau meninggalkan syaratnya, maka transaksi
jual beli nya menjadi sah." (Baca “المغني (4/17).
Dan Imam Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata pula:
وَلِأَنَّهُ اشْتَرَطَ عَقْدًا فِي عَقْدٍ،
فَفَسَدَ، كَبَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ، وَلِأَنَّهُ إِذَا اشْتَرَطَ الْقَرْضَ زَادَ
فِي الثَّمَنِ لِأَجْلِهِ، فَتَصِيرُ الزِّيَادَةُ فِي الثَّمَنِ عِوَضًا عَنِ الْقَرْضِ
وَرِبْحًا لَهُ، وَذَلِكَ رِبًا مُحَرَّمٌ.
“Karena dalam akad seperti ini, pihak penjual mensyaratkan
suatu akad dalam bentuk akad lain yang fasid, seolah-olah seperti dua akad jual
beli dalam satu transaksi. Dalam transaksi model seperti ini, adanya qardlu
(hutang piutang) dapat dijadikan alasan oleh penjual untuk menaikkan harga
sehingga menjadi harga baru sebagai imbalan dari hutang dan keuntungan
untuknya. Yang demikian itu adalah riba yang diharamkan.” [ Al-Mughni: 4/17 ].
Dan Jumhur ulama mengharamkan penggabungan antara transaksi
hutang piutang dengan semua jenis transaksi bisnis (مُعَاوَضَة)، seperti
transaksi sewa-menyewa (الْإِجَارَة)، percaloan (السِّمْسَرَة)، dan
lain-lain.
Transaksi bisnis / Mu‘āwaḍah (مُعَاوَضَة): yaitu akad tukar-menukar hak atas dasar
timbal balik atau disebut akad tukar-menukar. Contoh bentuk akad mu‘āwaḍah adalah
jual beli (الْبَيْع)، ijarah (الْإِجَارَة)، dan
samsarah/percaloan (السِّمْسَرَة).
Syekhul Islam Ibnu Taymiyyah
mengatakan dalam al-Qawaa'id an-Nurooniyyah (211) :
"وَالْمَنْعُ مِنْ هَذِهِ الْحِيَلِ:
هُوَ صَحِيحٌ قَطْعًا، لِمَا رَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ، وَلَا شَرْطَانِ
فِي بَيْعٍ، وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يُضْمَنْ، وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ». رَوَاهُ
الْأَئِمَّةُ الْخَمْسَةُ: أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَالتِّرْمِذِيُّ،
وَابْنُ مَاجَهْ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَسَنٌ صَحِيحٌ.
فَنَهَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَنْ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ سَلَفٍ وَبَيْعٍ، فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ سَلَفٍ وَإِجَارَةٍ،
فَهُوَ جَمْعٌ بَيْنَ سَلَفٍ وَبَيْعٍ، أَوْ مِثْلُهُ.
وَكُلُّ تَبَرُّعٍ يَجْمَعُهُ إِلَى الْبَيْعِ
وَالْإِجَارَةِ، مِثْلُ الْهِبَةِ، وَالْعَارِيَةِ، وَالْعَرِيَّةِ، وَالْمُحَابَاةِ
فِي الْمُسَاقَاةِ وَالْمُزَارَعَةِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ: فَهُوَ مِثْلُ الْقَرْضِ.
فَجِمَاعُ مَعْنَى الْحَدِيثِ: أَنْ لَا يُجْمَعَ
بَيْنَ مُعَاوَضَةٍ وَتَبَرُّعٍ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ التَّبَرُّعَ إِنَّمَا كَانَ لِأَجْلِ
الْمُعَاوَضَةِ، لَا تَبَرُّعًا مُطْلَقًا؛ فَيَصِيرُ جُزْءًا مِنَ الْعِوَضِ.
فَإِذَا اتَّفَقَا عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِعِوَضٍ،
جَمَعَا بَيْنَ أَمْرَيْنِ مُتَبَايِنَيْنِ؛ فَإِنَّ مَنْ أَقْرَضَ رَجُلًا أَلْفَ
دِرْهَمٍ، وَبَاعَهُ سِلْعَةً تُسَاوِي خَمْسَمِائَةً بِأَلْفٍ؛ لَمْ يَرْضَ بِالْإِقْرَاضِ
إِلَّا بِالثَّمَنِ الزَّائِدِ لِلسِّلْعَةِ، وَالْمُشْتَرِي لَمْ يَرْضَ بِبَذْلِ
ذَلِكَ الثَّمَنِ الزَّائِدِ إِلَّا لِأَجْلِ الْأَلْفِ الَّتِي اقْتَرَضَهَا؛ فَلَا
هَذَا بَاعَ بَيْعًا بِأَلْفٍ، وَلَا هَذَا أَقْرَضَ قَرْضًا مَحْضًا، بَلِ الْحَقِيقَةُ
أَنَّهُ أَعْطَاهُ الْأَلْفَ وَالسِّلْعَةَ بِأَلْفَيْنِ". انْتَهَى.
"Larangan terhadap semua hiilah / tipu
muslihat ini adalah shahih yang qoth’i, karena Abdullah bin Umar RA
meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ، وَلَا شَرْطَانِ
فِي بَيْعٍ، وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يُضْمَنْ، وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ»
"Tidak halal menjual dan meminjamkan, tidak pula dua
syarat dalam satu jual beli dan tidak halal laba terhadap barang yang tidak
dapat dijamin (baik dan buruknya), serta tidak halal menjual apa yang tidak
kamu miliki."
Diriwayatkan oleh lima imam: Ahmad, Abu Dawud, Al-Nasa'i,
Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.Al-Tirmidzi berkata: Itu hasan dan shahih.
Maka Beliau ﷺ melarang menggabungkan pinjaman dan
penjualan. Jadi jika dia menggabungkan pinjaman dan sewa menyewa, maka itu
adalah kombinasi antara pinjaman dan penjualan, atau yang semisalnya.
Dan semua transaksi tolong menolong atau berderma / تبرُّع (seperti hibah, pinjaman, pilih kasih
dalam kerja sama penyiraman kebun, bercocok tanam pertanian, dan lain
sebagainya) yang digabungkan dengan transaksi bisnis seperti jual beli atau
sewa menyewa, ini semua sama hukumnya seperti penggabungan antara pinjaman (قَرْضٌ) dengan Jual beli.
Makna hadits tersebut adalah tidak boleh menggabungkan
antara transaksi bisnis yang saling menguntungkan (مُعَاوَضَة) dengan pertolongan/derma (تَبَرُّع). Karena dengan demikian, pertolongan (تَبَرُّع) di sini pada hakikatnya bertujuan untuk
bisnis (مُعَاوَضَة), bukan murni untuk menolong, maka itu
menjadi bagian keuntungan bisnis dari imbalan bertabarru’.
Jika mereka berdua sepakat bahwa pinjaman itu bukan
imbalan bisnis, melainkan mereka menggabungkan dua hal yang berbeda, namun pada
realitanya: orang yang meminjamkan pada seseorang seribu dirham (قَرْضٌ) dan dia juga menjual kepada yang diberi
pinjaman barang yang harga pasarnya lima ratus dengan harga seribu ; maka
dengan demikian pada hakikatnya dia tidak ridho memberikan pinjaman, kecuali
dengan kelebihan harga barang-dagangan nya. Dan si Pembeli tidak ridho pula
untuk membayar harga tambahan itu, melainkan karena dapat pinjaman seribu.
Maka si penjual ini tidak menjualnya dengan harga seribu,
juga tidak murni berniat meminjamkan uang, akan tetapi pada hakikatnya adalah
dia memberinya uang seribu dan barang dengan harga dua ribu.
Ibnu
al-Qayyim berkata dalam I'laam al-Muwaqqi'iin (3/113):
"الْوَجْهُ الثَّانِي وَالْعِشْرُونَ:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يَجْمَعَ الرَّجُلُ
بَيْنَ سَلَفٍ وَبَيْعٍ. وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ لَوْ أَفْرَدَ أَحَدَهُمَا عَنِ الْآخَرِ
صَحَّ، وَإِنَّمَا ذَاكَ لِأَنَّ اقْتِرَانَ أَحَدِهِمَا بِالْآخَرِ ذَرِيعَةٌ إِلَى
أَنْ يُقْرِضَهُ أَلْفًا، وَيَبِيعَهُ سِلْعَةً تُسَاوِي ثَمَانِمِائَةٍ بِأَلْفٍ أُخْرَى؛
فَيَكُونُ قَدْ أَعْطَاهُ أَلْفًا وَسِلْعَةً بِثَمَانِمِائَةٍ، لِيَأْخُذَ مِنْهُ
أَلْفَيْنِ، وَهَذَا هُوَ مَعْنَى الرِّبَا، فَانْظُرْ إِلَى حِمَايَتِهِ الذَّرِيعَةَ
إِلَى ذَلِكَ بِكُلِّ طَرِيقٍ." انْتَهَى.
Aspek kedua puluh dua:
Nabi ﷺ melarang seseorang untuk menggabungkan pinjaman
dengan penjualan.
Dan sudah maklum adanya bahwa jika salah satu dari dua transaksi
tsb masing-masing terpisah maka masing-masing itu sah hukumnya. Adapun yang
dilarang dalam hadits, itu di karenakan adanya penggabungan antara yang satu
dengan yang lainnya. Dilarangnya itu sebagai dzarii’ah / pencegahan dari:
seseorang meminjamkan seribu, dan dia menjual barang yang harga aslinya 800
dengan harga 1000 lainnya, maka dengan demikian dia telah memberikan uang 1000
dan barang senilai 800, agar dia mendapatkan darinya 2000. Dan ini adalah makna
Riba. Maka perhatikan lah pada hadits tsb bagaimana penjagaan Riba dengan
menutup celah ke arah nya pada semua jalur “. (Selesai).
Dan Dr. Abdullah bin Muhammad al-‘Amraani berkata dalam “الْمَنْفَعَةُ فِي الْقَرْضِ” hal. 198:
"يَتَبَيَّنُ أَنَّ مُجَرَّدَ اشْتِرَاطِ
عَقْدِ الْبَيْعِ، وَنَحْوِهِ مِنْ عُقُودِ الْمُعَاوَضَاتِ، فِي عَقْدِ الْقَرْضِ:
مُحَرَّمٌ؛ لِوُرُودِ النَّصِّ بِهِ، بِسَبَبِ كَوْنِهِ ذَرِيعَةً إِلَى الْقَرْضِ
الرِّبَوِيِّ، مَعَ أَنَّ الْمَنْفَعَةَ احْتِمَالِيَّةٌ، وَمُتَوَقَّعَةٌ، وَذَلِكَ
أَنَّهُ رُبَّمَا يُزَادُ فِي الثَّمَنِ، وَرُبَّمَا لَا يُزَادُ؛ وَلَكِنَّ الْغَالِبَ
أَنْ يُزَادَ، وَهَذَا مِمَّا يَكْثُرُ الْقَصْدُ إِلَيْهِ عِنْدَ مَنْ يَتَعَاقَدُ
بِهَذِهِ الصِّفَةِ." انْتَهَى.
“Nampak jelas bahwa hanya sekadar mensyaratkan transaksi
jual beli saja dan juga transaksi-transaksi bisnis lainnya yang serupa dalam
transaksi pinjaman (قَرْضٌ): itu diharamkan.
Karena adanya nash dalam masalah tsb, dan larangan ini bertujuan untuk mencegah
terjadinya pinjaman riba, meskipun manfaatnya belum pasti dan hanya sebatas
kemungkinan. (Selesai)
IJMA PARA ULAMA:
Dan telah diriwayatkan adanya Ijma’para ulama tentang
haramnya menggabungkan pinjaman dengan jual atau beli.
Al-Qorroofii
berkata:
"وَبِإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ عَلَى
جَوَازِ الْبَيْعِ وَالسَّلَفِ مُفْتَرِقَيْنِ، وَتَحْرِيمِهِمَا مُجْتَمِعَيْنِ؛ لِذَرِيعَةِ
الرِّبَا"
“Dan dengan ijma’ ummat tentang bolehnya transaksi jual
beli dan hutang piutang yang terpisah. Dan haramnya jika digabungkan, karena
untuk menutup celah adanya riba.” (Baca: “الفُرُوْقُ (3/266)
Abu
Abdullah Al-Haththoob Al-Ru’aini Al-Maliki berkata dalam Mawaahib al-Jalil
4/391:
"وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا خِلَافَ
فِي الْمَنْعِ مِنْ صَرِيحِ بَيْعٍ وَسَلَفٍ"
“Ketahuilah bahwa tidak ada perbedaan pendapat mengenai
larangan penggabungan penjualan dan pinjaman secara shariih / dinyatakan secara
jelas.”
Al-Baaji
berkata dalam al-Muntaqaa 5/29:
"لَا يَحِلُّ بَيْعٌ وَسَلَفٌ،
وَأَجْمَعَ الْفُقَهَاءُ عَلَى الْمَنْعِ مِنْ ذَلِكَ."
“Tidak boleh penjualan dan peminjaman, dan para ulama ahli
fiqih telah ber ijma’ bahwa itu dilarang.”
Az-Zarkashi berkata dalam
al-Bahrul Muhith 8/91:
"وَبِالْإِجْمَاعِ عَلَى جَوَازِ
الْبَيْعِ وَالسَّلَفِ مُفْتَرِقَيْنِ، وَتَحْرِيمِهِمَا مُجْتَمِعَيْنِ؛ لِلذَّرِيعَةِ
إِلَيْهَا."
"Dengan suara bulat (Ijma’), tentang bolehnya
transaksi jual beli dan hutang piutang yang terpisah. Dan haramnya jika
digabungkan, karena untuk menutup celah menuju kepada riba”.
SECARA LOGIKA:
Dibyan ad-Dibyaan dalam kitab “الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ أَصَالَةً
وَمُعَاصَرَةً” hal. 369-370 berkata:
إِنَّ اشْتِرَاطَ الْبَيْعِ فِي عَقْدِ الْقَرْضِ،
أَوِ الْعَكْسَ كَاشْتِرَاطِ الْقَرْضِ فِي عَقْدِ الْبَيْعِ، يُخْرِجُ الْقَرْضَ عَنْ
مَوْضُوعِهِ، وَذَلِكَ أَنَّ الْقَرْضَ مِنْ عُقُودِ الْإِحْسَانِ وَالْإِرْفَاقِ،
يَجُوزُ فِيهِ مَا لَا يَجُوزُ فِي الْبَيْعِ مِنْ مُبَادَلَةِ الرِّبَوِيِّ بِمِثْلِهِ
مَعَ عَدَمِ التَّقَابُضِ، فَإِذَا ارْتَبَطَ بِعَقْدِ الْبَيْعِ عَنْ طَرِيقِ الشَّرْطِ
أَصْبَحَ لَهُ حِصَّةٌ مِنَ الْعِوَضِ، فَحَصَلَتْ بِذَلِكَ مَفْسَدَتَانِ:
الْمَفْسَدَةُ الْأُولَى: إِخْرَاجُ عَقْدِ
الْقَرْضِ عَنْ مَوْضُوعِهِ وَمُقْتَضَاهُ، وَهُوَ الْإِرْفَاقُ وَالْإِحْسَانُ، وَهَذَا
يُؤَدِّي إِلَى بُطْلَانِهِ، وَبُطْلَانِ عَقْدِ الْبَيْعِ.
الْمَفْسَدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّ الْقَرْضَ
إِذَا أَصْبَحَ لَهُ حِصَّةٌ مِنَ الْعِوَضِ أَفْضَى ذَلِكَ إِلَى جَهَالَةِ الثَّمَنِ،
وَذَلِكَ لِأَنَّ مِقْدَارَ هَذِهِ الْحِصَّةِ مَجْهُولَةٌ، فَتَعُودُ بِالْجَهَالَةِ
عَلَى الثَّمَنِ كُلِّهِ.
Sesungguhnya syarat jual beli dalam akad pinjaman, atau
sebaliknya, contohnya seperti mensyaratkan pinjaman uang dalam akad jual beli,
maka akad pinjaman itu adalah bentuk penyimpangan dari subjeknya, karena
transaksi pinjaman itu masuk dalam akad kebajikan dan kasih sayang antar
sesama.
Berarti di dalam nya terdapat hukum membolehkan sesuatu
yang dilarang, yaitu membolehkan jual beli barang ribawi dengan yang semisalnya
tanpa serah terima (التقابض).
Jika ini dikaitkan dengan transaksi penjualan melalui syarat tersebut, maka si
pemberi pinjaman akan mendapat bagian keuntungan dari transaksi tsb.
Dengan demikian terdapat dua
mafsadah di dalamnya:
Mafsadah
pertama:
Mengeluarkan
akad pinjaman dari subjeknya dan konsekwensinya, yaitu kasih sayang dan
kebajikan, dan ini mengarah pada ketidakabsahannya, dan ketidakabsahan akad
jual beli.
Mafsadah
kedua:
Jika pinjaman itu menjadi bagian dari transaksi bisnis,
maka ini akan mengarah pada ketidak jelasan tentang harga, karena jumlah
bagiannya tidak diketahui, sehingga dengan ketidak jelasannya itu berdampak
pada ketidak jelasan seluruh harga.
RINGKASNYA:
Jika dalam transaksi Penjualan dan peminjaman itu terdapat
pilih kasih (ada maunya atau ada udang dibalik batu), atau kenaikan harga, maka
diharamkannya itu karena riba.
Jika tidak ada pilih kasih, maka larangan tsb sebagai
dzari’ah / pencegahan dari riba.
WALLAHU A’LAM
0 Komentar